Tetesan
Hujan Karunia Tuhan
Karya
: Fitria Wulandari
“Tap...
tap.. tap..” Bunyi langkah kakiku yang berjalan menuju sekolah, tak begitu jauh
dari rumahku. Tapi itu menurutku. Ya, memang selalu seperti ini, aku setiap
hari selalu berjalan kaki menuju sekolah. Aku tak mau diantar oleh Ayahku yang
selalu menawarkan tumpangan dimobil mewahnya. Sambil berjalan, aku kembali
teringat dengan kejadian yang terjadi pagi tadi.
Pagi
tadi, sekitar jam 5 aku terbangun karena mendengar tangisan ibuku. Aku keluar
kamar untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat mata ibuku biru lebam dan
beberapa luka memar di sekitar wajah dan tangannya. Tak begitu mengejutkanku,
itu sudah sering terjadi. Aku hanya bisa meminta pertolongan Tuhan agar
penderitaan ibuku yang disebabkan oleh lelaki itu segera berakhir.
Lelaki
itu, ah aku sangat malu mengakuinya sebagai Ayahku. Bukan karena dia tak punya
banyak harta, tetapi dia selalu menyiksa Ibuku. Hampir setiap pagi aku tak
pernah melihatnya tak menyiksa Ibuku, entah apa salah Ibu. Aku benar-benar tak
suka itu. Tapi apa mau dikata, dia Ayahku. Sudah beribu kali kusarankan Ibu
untuk menceraikannya, tapi Ibu hanya tersenyum dan berkata, “Tak apa-apa.
Namanya juga berkeluarga, cek-cok itu biasa.” Entah terlalu cinta padanya atau karena
Ibu terlalu bodoh.
Tanpa
terasa mataku menitikkan air. Ku alihkan pandanganku kedepan, gerbang sekolahku
sudah dekat, segera ku hapus air mataku. Aku tak mau terlihat kacau hari ini
didepan teman-temanku.
Akhirnya
aku sampai di kelasku, duduk dibangku ku, menyapa teman-teman sekelas, bel
berbunyi tanda proses belajar mengajar harus dimulai, duduk mendengarkan guru,
dan bla bla bla. Selalu seperti itu. Aku pernah berpikir untuk apa kita sekolah
tinggi-tinggi, setengah hidup hanya dihabiskan untuk belajar, konyol! Dan yang
lebih konyolnya lagi, aku tetap merasa senang belajar disekolah, menuntut ilmu
setinggi mungkin. Agar aku tak menjadi wanita bodoh.
Aku
mulai bosan, otakku hari ini tak bisa menerima apa yang diberikan guru. Tiba
pada pelajaran terakhir, Bahasa Inggris. Mungkin kali ini aku bisa
berkonsentrasi, semoga saja. Tapi, tanpa diduga-duga sebelumnya, air langit
menetes dengan deras. Angin sepoi-sepoi menerpaku. Belajar dalam suasana
seperti ini, siapa yang tahan? Diotak siswa pasti hanya ingin segera pulang
kerumah dan tidur.
Tetesan
Hujan Karunia Tuhan
Karya : Fitria Wulandari
“Tap...
tap.. tap..” Bunyi langkah kakiku yang berjalan menuju sekolah, tak begitu jauh
dari rumahku. Tapi itu menurutku. Ya, memang selalu seperti ini, aku setiap
hari selalu berjalan kaki menuju sekolah. Aku tak mau diantar oleh Ayahku yang
selalu menawarkan tumpangan dimobil mewahnya. Sambil berjalan, aku kembali
teringat dengan kejadian yang terjadi pagi tadi.
Pagi
tadi, sekitar jam 5 aku terbangun karena mendengar tangisan ibuku. Aku keluar
kamar untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat mata ibuku biru lebam dan
beberapa luka memar di sekitar wajah dan tangannya. Tak begitu mengejutkanku,
itu sudah sering terjadi. Aku hanya bisa meminta pertolongan Tuhan agar
penderitaan ibuku yang disebabkan oleh lelaki itu segera berakhir.
Lelaki
itu, ah aku sangat malu mengakuinya sebagai Ayahku. Bukan karena dia tak punya
banyak harta, tetapi dia selalu menyiksa Ibuku. Hampir setiap pagi aku tak
pernah melihatnya tak menyiksa Ibuku, entah apa salah Ibu. Aku benar-benar tak
suka itu. Tapi apa mau dikata, dia Ayahku. Sudah beribu kali kusarankan Ibu
untuk menceraikannya, tapi Ibu hanya tersenyum dan berkata, “Tak apa-apa.
Namanya juga berkeluarga, cek-cok itu biasa.” Entah terlalu cinta padanya atau karena
Ibu terlalu bodoh.
Tanpa
terasa mataku menitikkan air. Ku alihkan pandanganku kedepan, gerbang sekolahku
sudah dekat, segera ku hapus air mataku. Aku tak mau terlihat kacau hari ini
didepan teman-temanku.
Akhirnya
aku sampai di kelasku, duduk dibangku ku, menyapa teman-teman sekelas, bel
berbunyi tanda proses belajar mengajar harus dimulai, duduk mendengarkan guru,
dan bla bla bla. Selalu seperti itu. Aku pernah berpikir untuk apa kita sekolah
tinggi-tinggi, setengah hidup hanya dihabiskan untuk belajar, konyol! Dan yang
lebih konyolnya lagi, aku tetap merasa senang belajar disekolah, menuntut ilmu
setinggi mungkin. Agar aku tak menjadi wanita bodoh.
Aku
mulai bosan, otakku hari ini tak bisa menerima apa yang diberikan guru. Tiba
pada pelajaran terakhir, Bahasa Inggris. Mungkin kali ini aku bisa
berkonsentrasi, semoga saja. Tapi, tanpa diduga-duga sebelumnya, air langit
menetes dengan deras. Angin sepoi-sepoi menerpaku. Belajar dalam suasana
seperti ini, siapa yang tahan? Diotak siswa pasti hanya ingin segera pulang
kerumah dan tidur.